Ilustrasi. (Thinkstock)

Jakarta, MENTARI.ONLINE – Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) Kementerian Kesehatan merilis data bahwa per November 2017 sebanyak 23 provinsi di Indonesa terdeteksi terjangkit penyakit difteri. Hal ini cukup memprihatinkan karena difteri masuk dalam daftar penyakit mematikan.

Difteri sendiri merupakan penyakit yang disebabkan infeksi oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Difteri sering disebut dengan batuk rejan yang menyerang tenggorokan.

Penyakit ini sangat memungkinkan ditularkan, oleh karena itu orang-orang terdekat pengidap diharuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Selain itu, dapat menimbulkan efek yang serius pada selaput lender hidung dan tenggorokan.

dr Arifianto, SpA yang berpraktik di daerah Kramat Jati mengungkapkan gejala awal penyakit difteri ialah sakit pada tenggorokan, demam, dan lemas. Selain itu juga terbentuk membran tebal berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

“Kalau seseorang kuat dugaan tertular difteri maka akan segera dilakukan pengobatan sebelum ada hasil laboratorium,” ujarnya, Senin (4/12/2017).

Setelah diberi anjuran untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit oleh dokter, pasien akan diberi pengobatan. Pengobatan yang diberikan adalah obat antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik diberikan guna membunuh bakteri penyebab difteri dan memyembuhkan infeksi. Umumnya pasien akan keluar dari ruang isolasi setelah mengonsumsi antibiotik selama dua hari.

Namun, mereka tetap harus melakukan pemeriksaan laboratorium guna mengecek ada tidaknya bakteri di dalam darah. Apabia masih ditemukan maka pasien diberikan antibiotik selama 10 hari. Penting diingat untuk menghabiskan antibiotik meski efek yang dirasakan sudah hilang, agar terhindar dari resistennya bakteri.

Pemberian antitoksin sendiri dimaksudkan untuk menetralisasi racun dari difteri yang telah menyebar di tubuh. Pasien akan dicek reaksi alergi terhadap obat antitoksin terlebih dahulu, jika pasien alergi makan dosis yang diberikan rendah kemudian akan meningkat sesuai dengan kondisi pasien.

Ilustrasi. (Thinkstock)

Timbulnya membran abu-abu dalam tenggorakan akan menyebabkan penderita sulit bernapas, maka dianjurkan untuk menjalani pengangkatan membran.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk memberikan vaksin pada anaknya agar terlindung dari penyakit difteri. Tertulis dalam pernyataan resmi, IDAI mengungkapkan bahwa imunisasi merupakan perlindungan terbaik dan mudah diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan. (Livia/detikHealth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here