Imunoterapi
Ilustrasi. (Kisahsorayamengawalikarir.blogspot)

Jakarta,MENTARI.ONLINE – Imunoterapi atau disebut immune checkpoint inhibitors merupakan  cara pengobatan dengan melakukan peningkatkan kekebalan tubuh. Metode imunoterapi yang dikembangkan para pakar kesehatan di Indonesia saat ini baru bisa digunakan untuk terapi lini kedua pada penderita kanker paru stadium lanjut (stadium IV).

Pengobatan Imunoterapi dibuat agar tidak terjadi interaksi antara sel T miliki sistem imun dan tumor. Melalui imunoterapi, interaksi tersebut dapat diblok (dihambat) sehingga sel T bisa mendeteksi sel-sel kanker dan membasminya. Sedangkan kemoterapi, obat-obat yang masuk ke dalam tubuh berfungsi untuk menghentikan pertumbuhan sel, baik sel kanker maupun sel sehat lainnya.

Di Indonesia, pengobatan metode ini hanya dapat diterapkan pada pasien kanker paru stadium lanjut (stadium IV) saja. Diungkapkan dokter spesialis kanker paru dan ahli imunoterapi, dr. Sita Laksmi PhD, SpP(K) bahwa imunoterapi bisa diterapkan sebagai terapi lini kedua jika pada pengobatan lini pertama dinyatakan gagal.

“Untuk kanker paru stadium lanjut (stadium IV) terapi lini satunya yaitu kemoterapi, terapi target, atau kombinasi kemoterapi dengan radioterapi. Kalau sudah diberikan terapi lini pertama dan tumornya malah membesar (progressive disease), maka harus diganti obatnya pada terapi lini kedua. Lini kedua ini bisa kemoterapi, terapi target atau terapi yang terbaru yaitu immunoterapi,” jelas dr. Sita, dilansir dari detikcom, Minggu (18/6/2017).

Imunoterapi
Ilustrasi. (Kisahsorayamengawalikarir.blogspot)

dr Sita pun mengungkapkan bahwa imunoterapi dapat membuat waktu bertahan hidup pasien lebih lama dibanding kemoterapi. “Kalau dengan kemo survivalnya 8 bulan, tapi kalau dengan imunoterapi bisa 10-12 bulan. Cara pengobatannya juga hanya dengan diinfus selama 30 menit dan dilakukan setiap 3 minggu,” terangnya.

Efek samping dari pengobatan Immunoterapi adalah dapat menyebabkan autoimun atau radang paru. Namun menurut dr Sita hal tersebut jarang terjadi karena sebelum melakukan imunoterapi, dokter melakukan prediksi terhadap risiko apa yang akan terjadi pada pasien. (meu/pjk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here